.Email dengan alamat melekat pada jabatan itu memang positive, tetapi ada efek negativenya juga, yaitu pertanggung jawaban pejabat terhadap issue atau kasus yang terjadi, mempunyai posibility untuk bias.
Idealnya,pejabat adalah orang yang bertanggung jawab, tetapi kita kan masih mempunyai persoalan dengan "tunjuk orang lain", "ndelik" dan sebagainya yang intinya masih belum sadar penuh untuk berani bertanggung jawab atas resiko jabatan, yaitu bila ada issue atau kasus terjadi karena anak buahnya, atasan mau dan berani "ndadagi". Selain itu,masih ada persoalan dimana masih ada pejabat yang memperbolehkan anak buah menggunakan emailnya untuk follow up dan lain lain tetapi tanpa kontrolnya, sehingga justru si anak buah lah yang menjalankan tugas dan membuat kebijakan yang seharusnya adalah wewenang, tugas dan tanggung jawab pejabat tersebut.
Sebagai seorang yang menjabatan dengan nana "Atasan" tentunya apa yang tersebut diatas Betul sekali.
Semua hal yang terjadi menjadi tanggung jawabnya atasan/pejabatnya
Artinya di terjemahkan Jika ada kegagalam yang di sebabkan Team/Stafnya maka atasanlah yang bertanggung jawab atas kegagalan dan kesalahan bawahanya bukan meforward ke yang bersangkutan yan menyebabkan terjadinya kesalahan.
Demikian juga kita harus berpikir sebaliknya
keberhasilan Team berarti keberhasilan semua, tentunya pejabat atau orang yang paling Bertanggung jawab di anggap berhasil, misal jika Negara maju maka preseiden yang mendapat penghargaan tertinggi yang dianggap berhasil walaupun sebenarnya yang bekerja keras dan teknis adalah menteri2 gubenur , bupati dan PNS lainya .
Kembalike topik
tapi tentunya ada juga yang berpikir inikan sy yang mengerjakan atasan cuman bisa memerintah dan lainya, coba kalau gak ada saya....pasti atasan gak bisa mengerjakan tugas2 saya
Berpikir seperti itu tidak masalah dan menurut saya tidak ada yang salah....boleh saja karena sy juga suka berpikir... seperti itu yang capek saya yang pusing saya yang mendapat maanfaat kok orang lain.
Lalu bagaimana real yang terjadi di sekitar kita, semua alami dan tidak ada yang aneh, yang aneh jika kita berpikir mestinya kan ..harusnya tidak seperti itu dan sejenisnyameminta sesuat yang ideal dan sesuai dengan hal2 yang selama ini kita yakini sebagai budaya dan kebenarnya ( baca: kecuali agama )
Oke kapan2 kita ngobrol sambil makan pisang di pingir kali code ya teman2 sambil makan pisang goreng dan Jagung Bakar, kenapa saya bilang semua alami ?
Mungkin cara berpikir kita yang harus di rubah
Kita harus mulai berpikir bahwa bekerja Itu Ibadah dan harus Ihklas ( syarat Ibadah )
mencintai pekerjaan,profesional dan bertanggung jawab ( jadi tidak perduli siapa atasan kita,siapa bawahan kita dan dimana kita bekerja ) kita tetap bisa bekerja dengan Penuh Integritas.
Kalau kita merasa tidak memperoleh keadilan atas apa yang kita kerjakan, Percayakan saja urusan kita dengan Tuhan Dia maha Adil, DIA tidak tidur dan Maha mengetahi